Penjual Es Teh Idaman di Ketintang Barat Surabaya: Harga Tetap Rp2.500, Rasa Jumbo, Strategi Cerdas di Tengah Persaingan Dan Musim Penghujan
Gambar 1. Stand Es Teh Jumbo (Sumber: Dokumentasi pribadi)
Surabaya , 15 November 2025 – Di tengah maraknya penjual minuman kekinian dengan harga yang semakin tinggi, keberadaan penjual es teh jumbo Rp2.500 di daerah Jl. Ketintang Barat, Ketintang, Kec. Gayungan, Surabaya, Jawa Timur 60231 menjadi magnet tersendiri bagi sebagian warga sekitar. Penjual yang dikenal dengan nama Kak Ressa ini berhasil mempertahankan harga murah tanpa mengorbankan rasa maupun ukuran. Tidak heran, lapak es tehnya selalu menjadi tujuan pelajar, mahasiswa, hingga pekerja yang mencari minuman segar dengan harga merakyat.
Dalam wawancara bersama tim kelompok kami, Kak Ressa membagikan berbagai strategi dan alasan di balik keberhasilannya menjaga harga tetap rendah namun tetap mendapatkan keuntungan. Menurutnya, kunci utama ada pada pengaturan modal, pemilihan bahan baku yang tepat, dan efisiensi produksi.
Ketika ditanya soal strategi untuk tetap mendapatkan keuntungan meskipun harga jual lebih rendah, Kak Ressa menjelaskan bahwa ia menerapkan manajemen belanja yang ketat. “Saya membeli bahan baku di toko kelontong karena harganya lebih terjangkau. Selain itu, saya juga mengatur jumlah takaran bahan supaya tetap pas, rasanya kuat, tapi tetap hemat. Dengan begitu, walaupun harganya Rp2.500, keuntungan masih bisa didapat.” jelasnya.Ressa juga menambahkan bahwa membeli bahan dalam jumlah tertentu bisa menurunkan biaya harian karena beberapa toko memberi harga lebih murah jika pembelian dilakukan secara rutin.
Dalam proses produksi dan penjualan, Kak Ressa sebenarnya tidak sepenuhnya bekerja sendiri. “Biasanya saya dibantu teman saya, namun saat ini saya jaga sendiri.” ujarnya. Meski demikian, ia tetap mampu menjaga kualitas dan pelayanan agar pelanggan merasa puas.
Ketika ditanya mengenai waktu penjualan yang paling ramai, Kak Ressa menyebutkan bahwa siang hari menjadi momen dengan pembeli terbanyak. “Biasanya waktu siang hari stand es teh ini selalu rame, karena cuacanya Surabaya panas dan orang-orang lewat suka butuh yang segar-segar,” tuturnya. Pada waktu tersebut, es teh jumbo Rp2.500 menjadi pilihan yang sulit ditolak.
Keputusan mempertahankan harga Rp2.500 pun bukan tanpa alasan. Kak Ressa berusaha menyesuaikan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar. “Karena menyesuaikan dengan lingkungan, di sini kan lingkungan anak kampus,anak kos, dan anak-anak sekolah. Dengan es teh jumbo harga 2.500, saya rasa pelanggan tidak keberatan dan lebih memilih membeli di sini karena tergolong murah dengan ukuran gelas besar,” jelasnya.
Namun, tantangan muncul ketika memasuki musim hujan. Penjualan menurun karena cuaca dingin membuat orang enggan membeli minuman es. “Iya ada dampaknya. Biasanya pembeli jadi jarang beli ketika cuaca dingin. Tapi saya percaya walau mungkin di musim hujan pembeli berkurang tapi daya tarik teh jumbo 2.500 ini tidak akan berubah,” ungkapnya ketika ditanya mengenai solusi menghadapi musim hujan. Meski ada saran untuk menyediakan varian minuman hangat, Kak Ressa mengaku, “Untuk saat ini kami tidak menyediakan varian hangat, hanya yang ada di menu saja.”
Di tengah tantangan iklim, pedagang seperti Kak Ressa menunjukkan semangat untuk terus berjuang. Jika cuaca membaik, penjualan es teh 2.500 di stand ini diharapkan kembali ramai. Sementara itu, Kak Ressa terus menjaga standnya, siap menyambut pelanggan yang mungkin datang di sela-sela hujan. Semangat Kak Ressa untuk memberikan minuman terjangkau tetap tinggi. Keuletan inilah yang membuat es teh Rp2.500 miliknya menjadi idola di kawasan Ketintang.
Ditulis oleh : Nur Laily Wahyu Nasywa Oktavia & Arinda Cornelia Putri Umi Sugiharta

Komentar
Posting Komentar